TOKYO. Harga minyak mentah acuan global menunjukkan kenaikan substansial, melonjak lebih dari 4% dalam sesi perdagangan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang secara lugas menyerukan bahwa nota kesepahaman (MOU) antara AS dan Iran telah berakhir, sebuah perkembangan geopolitik yang langsung mengguncang stabilitas pasar energi global. Pernyataan tersebut segera diinterpretasikan oleh pasar sebagai indikasi peningkatan ketegangan antara kedua negara, yang memiliki implikasi signifikan terhadap pasokan minyak dan jalur pelayaran vital di Timur Tengah.
Pada hari Rabu, 8 Juli 2026, pukul 14.15 WIB, pergerakan harga komoditas ini menjadi sangat jelas. Harga minyak mentah jenis Brent, yang merupakan patokan utama di pasar internasional untuk kontrak pengiriman bulan September 2026, tercatat mengalami kenaikan sebesar US$ 2,40. Kenaikan ini merepresentasikan peningkatan sekitar 3,2%, membawa harga per barel minyak Brent mencapai US$ 76,56. Angka ini mencerminkan reaksi cepat pasar terhadap berita geopolitik yang berkembang, dengan para investor segera menyesuaikan valuasi mereka terhadap risiko pasokan.
Bersamaan dengan Brent, patokan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan utama di pasar AS, juga menunjukkan tren serupa. Untuk kontrak pengiriman bulan Agustus 2026, harga WTI melonjak US$ 2,26, atau setara dengan kenaikan 3,2%, mengantarkannya ke level US$ 72,70 per barel. Kenaikan serentak pada kedua jenis minyak mentah ini menggarisbawahi dampak luas dari perkembangan politik terhadap dinamika penawaran dan permintaan di pasar komoditas energi, menunjukkan kekhawatiran yang mendalam mengenai potensi gangguan pasokan.
Pergerakan harga yang signifikan ini bukan merupakan insiden yang terisolasi. Sehari sebelumnya, pada hari Selasa, kedua patokan harga minyak tersebut telah menunjukkan kenaikan sekitar 3%. Pemicu kenaikan pada hari Selasa adalah keputusan AS untuk mencabut izin umum yang sebelumnya memungkinkan penjualan minyak mentah dari Iran. Tindakan ini, yang secara efektif memperketat sanksi terhadap ekspor minyak Iran, telah memberikan sinyal awal kepada pasar mengenai potensi pengetatan pasokan global. Dengan demikian, pernyataan Trump pada hari berikutnya hanya memperkuat sentimen pasar yang sudah tegang.
Pernyataan Presiden Trump mengenai MOU antara Iran dan AS, di mana ia mengatakan, “I think it’s over,” memiliki efek langsung dan dramatis terhadap harga minyak. Ungkapan singkat ini, yang menyiratkan berakhirnya kesepakatan atau pemahaman antara kedua negara, segera memicu reaksi panik di kalangan pedagang. Pasar dengan cepat menginterpretasikan ini sebagai peningkatan risiko konflik atau ketidakstabilan yang lebih lanjut di kawasan Teluk, wilayah yang krusial bagi pasokan minyak dunia. Sentimen negatif ini mendorong harga minyak untuk melesat tajam dalam waktu singkat, mencerminkan ketidakpastian yang mendalam.
Para ahli strategi komoditas telah memberikan pandangan mereka mengenai situasi ini. Seorang ahli dari ING, pada hari Rabu, menjelaskan bahwa meskipun pencabutan izin dan pernyataan Trump mungkin tidak secara fundamental mengubah dinamika penawaran dan permintaan minyak dalam jangka pendek, dampaknya terhadap sentimen pasar sangatlah penting. Menurutnya, perkembangan ini secara signifikan meningkatkan risiko kegagalan kesepakatan sementara yang mungkin telah ada antara AS dan Iran. Dalam konteks pasar yang sangat sensitif terhadap berita geopolitik, sentimen ini dapat menjadi kekuatan pendorong yang kuat bagi pergerakan harga, bahkan tanpa perubahan fisik dalam pasokan.
Eskalasi ketegangan antara AS dan Iran telah terlihat dalam serangkaian insiden militer baru-baru ini. Komando Pusat AS melaporkan pada hari Selasa bahwa serangan udara yang dilancarkan oleh AS merupakan respons langsung terhadap serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang berlayar melintasi Selat Hormuz. Insiden ini menyoroti kerapuhan keamanan di salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia. Serangan terhadap kapal komersial tersebut mengindikasikan kesediaan Iran untuk menunjukkan kekuatan di wilayah tersebut, yang pada gilirannya memprovokasi respons militer dari AS.
Tidak lama setelah serangan udara AS, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menargetkan situs militer AS di Bahrain dan Kuwait pada Rabu pagi. Tindakan balasan ini menandai peningkatan yang signifikan dalam siklus eskalasi antara kedua negara. Serangan yang ditargetkan pada fasilitas militer AS di negara-negara sekutu di Teluk menunjukkan bahwa konflik ini berpotensi meluas dan melibatkan aktor-aktor regional lainnya. Perkembangan ini semakin memperburuk kekhawatiran pasar minyak tentang stabilitas pasokan dan potensi gangguan yang lebih besar di masa depan.
Saul Kavonic, Kepala Penelitian di MST Marquee, menekankan betapa rapuhnya jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dalam konteks konflik saat ini. Ia menyatakan bahwa situasi ini berfungsi sebagai pengingat tajam bagi pasar tentang kerentanan Selat tersebut. Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang sangat vital, menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar global. Setiap gangguan, bahkan yang bersifat sementara, di Selat ini dapat memiliki konsekuensi besar terhadap pasokan energi dunia dan harga minyak. Kerentanan ini menjadi faktor krusial dalam perhitungan risiko pasar.
Kavonic juga menambahkan bahwa konflik yang sedang berlangsung ini merupakan indikator yang kontradiktif terhadap sentimen pasar yang sebelumnya berlaku, yaitu ekspektasi kelebihan pasokan. Sebelum eskalasi terbaru, banyak analis berpendapat bahwa pasar akan dibanjiri oleh pasokan minyak. Namun, ketegangan di Selat Hormuz kini mengubah narasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa situasi ini mungkin akan membuat beberapa posisi jual (short positions) yang tinggi, yaitu taruhan pada penurunan harga, menjadi takut untuk menutup posisi mereka. Jika ketegangan terus berlanjut dan lalu lintas melalui jalur air tetap di bawah 50% dari tingkat sebelum perang, kendala pasokan yang dihasilkan dapat secara signifikan mendukung harga minyak yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik dapat dengan cepat mengalahkan fundamental pasokan-permintaan dalam jangka pendek.
Sebelum eskalasi terbaru, pasar minyak sempat mengalami periode penurunan harga yang signifikan. Setelah AS dan Iran menandatangani perjanjian gencatan senjata pada bulan sebelumnya, harga minyak kembali anjlok ke level sebelum perang. Kondisi ini mendorong para pedagang untuk menumpuk posisi jual besar-besaran dalam kontrak berjangka minyak, yang merupakan taruhan bahwa harga akan terus turun lebih jauh. Sentimen pasar pada saat itu didominasi oleh optimisme bahwa perjanjian gencatan senjata akan membuka jalan bagi peningkatan pasokan dari Iran dan stabilitas yang lebih besar di kawasan tersebut.
Ekspektasi akan “gelombang pasokan Timur Tengah yang tertahan masuk ke pasar” menjadi pendorong utama di balik penurunan harga pasca-gencatan senjata. Banyak analis dan pedagang percaya bahwa setelah periode konflik, sejumlah besar minyak yang sebelumnya tertahan akan membanjiri pasar, menciptakan surplus pasokan dan menekan harga. Iran, sebagai salah satu produsen minyak utama, diharapkan dapat meningkatkan ekspornya jika sanksi dilonggarkan atau jika ada kesepakatan yang lebih stabil. Namun, perkembangan terbaru dengan pernyataan Trump dan insiden militer telah sepenuhnya membalikkan ekspektasi ini, menggeser fokus pasar dari kelebihan pasokan menjadi risiko kekurangan pasokan.
Mengenai serangan terhadap kapal-kapal komersial, Iran secara tegas membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut. Namun, Qatar secara terbuka menyalahkan Iran atas serangan-serangan itu, termasuk satu serangan yang menargetkan kapal tanker gas alam cair (LNG) milik Qatar. Kapal tanker LNG tersebut dilaporkan dihantam oleh drone, yang menyebabkan kebakaran di ruang mesinnya. Insiden ini menyoroti ancaman baru terhadap kapal-kapal komersial di wilayah tersebut dan meningkatkan kekhawatiran tentang keamanan maritim.
Selain itu, sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Saudi, yang diyakini sebagai supertanker Wedyan, juga dilaporkan mengalami kerusakan di lepas pantai Oman. Sumber keamanan maritim mengonfirmasi insiden ini, meskipun penyebab pasti kerusakan tersebut belum segera jelas. Serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial ini, terlepas dari siapa pelakunya, telah menciptakan iklim ketidakpastian dan risiko yang tinggi bagi pelayaran di Teluk dan sekitarnya, memperparah kekhawatiran pasar minyak.
Serangan-serangan ini secara langsung membangkitkan kembali kekhawatiran yang mendalam tentang lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz. Sebelum perang dimulai pada bulan Februari, Selat ini merupakan jalur vital yang mengangkut kargo setara dengan sekitar seperlima dari total pasokan energi global. Volume perdagangan yang sangat besar ini menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik hambatan maritim paling strategis di dunia. Setiap ancaman terhadap kebebasan navigasi atau keamanan di Selat ini memiliki potensi untuk mengganggu pasokan energi global secara signifikan, memicu lonjakan harga dan ketidakpastian ekonomi di seluruh dunia.
Dalam konteks ini, Iran menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz dan telah memerintahkan kapal-kapal untuk menggunakan rute yang lebih dekat ke pantainya, alih-alih rute yang lebih dekat ke Oman, yang juga berbatasan dengan jalur air tersebut. Klaim kedaulatan Iran atas Selat ini dan upaya untuk mengarahkan lalu lintas kapal mencerminkan ambisinya untuk memproyeksikan kekuatan di wilayah tersebut dan berpotensi menggunakan Selat sebagai alat tawar-menawar geopolitik. Perintah ini menimbulkan kekhawatiran tentang kebebasan navigasi internasional dan potensi konfrontasi lebih lanjut.
Di sisi lain, Amerika Serikat bersikeras bahwa jalur air tersebut harus tetap bebas untuk semua orang, seperti kondisi sebelum konflik dimulai. Pendekatan AS ini menekankan prinsip kebebasan navigasi di perairan internasional, yang penting bagi perdagangan global dan keamanan energi. Sejak perang dimulai, berbagai negara di dunia telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi persediaan minyak mereka sebagai upaya untuk menutupi potensi kekurangan pasokan yang diakibatkan oleh ketidakstabilan di Timur Tengah. Penurunan persediaan ini menunjukkan kekhawatiran global terhadap keberlanjutan pasokan energi.
Data terbaru mengenai persediaan minyak mentah AS juga memberikan gambaran yang mendukung sentimen kenaikan harga. Sumber pasar melaporkan pada hari Selasa, mengutip data dari American Petroleum Institute (API), bahwa persediaan minyak mentah AS kembali mengalami penurunan pada pekan lalu. Penurunan persediaan di negara konsumen minyak terbesar di dunia ini menunjukkan bahwa permintaan tetap kuat atau pasokan domestik tidak mencukupi, yang dapat menambah tekanan ke atas pada harga minyak.
Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan bahwa persediaan minyak mentah akan menurun sekitar 2,4 juta barel pada pekan yang berakhir pada 3 Juli. Proyeksi ini, jika terkonfirmasi oleh data resmi pemerintah, akan semakin memperkuat argumen bahwa pasar minyak global sedang mengalami pengetatan pasokan. Penurunan persediaan di AS, dikombinasikan dengan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, menciptakan kondisi yang sangat kondusif bagi kenaikan harga minyak, karena pasar bereaksi terhadap persepsi risiko pasokan yang meningkat dan pasokan yang lebih ketat.