
KAWASAN Jalan Malioboro di Yogyakarta menjadi salah satu area tersibuk yang nyaris tak pernah kosong disambangi masyarakat dan wisatawan selama hampir 24 jam. Berbagai aktivitas ekonomi setiap harinya menggeliat di jalan yang juga pusat kantor pemerintahan dan pusat belanja itu.
Namun belakangan ini, sering muncul keluhan bau tak sedap ketika wisatawan dan warga beraktivitas Malioboro. Sempat ada kecurigaan, bau tak sedap itu berasal dari kencing dan kotoran kuda atau andong yang beroperasi di kawasan itu.
Pemerintah Kota Yogyakarta pun mengerahkan petugas menelusuri sumber aroma tak sedap yang mengganggu kenyamanan di kawasan Malioboro itu selama dua hari terakhir, Senin-Selasa 26-27 Januari 2026. “Bau tak sedap yang selama ini dikeluhkan ternyata bukan hanya bersumber dari aktivitas andong (kereta kuda),” kata Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, di sela pembersihan kawasan Malioboro, Selasa.
Pilihan Editor: Dua Sisi Lonjakan Jumlah Wisatawan di Yogyakarta
Dedi menuturkan, pencarian sumber bau tak sedap yang melibatkan ratusan petugas hingga pelaku wisata di Malioboro itu menemukan adanya endapan sampah lama di bawah grill atau gorong-gorong, juga memicu bau menyengat. Terlebih saat musim penghujan saat ini, bau tak sedap bisa semakin tajam di beberapa titik dekat lubang gorong-gorong.
“Endapan sampah lama ini di bawah gorong-gorong itu juga menimbulkan aroma tidak sedap. Jadi bukan semata-mata karena kencing kuda, tetapi lebih faktor sampah,” ujar Dedi.
Pembersihan Jangka Panjang
Untuk antisipasi jangka panjang agar endapan di bawah gorong-gorong tak menumpuk, Dedi menilai tak akan cukup hanya dengan pembersihan berkala. Sebab sebagian endapan sampah di saluran gorong-gorong sudah sangat sulit dihilangkan.
“Kami sedang mengkaji solusi teknis jangka panjang, seperti pemanfaatan teknologi penguraian bakteri dan perbaikan konstruksi water torrent agar masalah aroma ini benar-benar tuntas,” kata dia.
Pilihan Editor: Surga Buku di Desa Wisata Karangrejek
Sedangkan untuk jangka pendek, dilakukan pembersihan menyeluruh pada titik-titik yang menjadi sumber bau. Terutama area drainase dan grill saluran air yang sering tersumbat endapan sampah.
Dalam pembersihan itu, petugas dan relawan juga menyisir puntung rokok di jalur pedestrian, membersihkan noda pada ornamen tiang lampu dan kursi taman, hingga menghapus aksi vandalisme yang merusak estetika kawasan.
Gerakan Selasa Wagen
Adapun Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menuturkan Malioboro sebagai jantung wisata Kota Yogyakarta idealnya juga membutuhkan waktu jeda untuk beristirahat di tengah padatnya kunjungan wisatawan.
“Malioboro ini setiap hari dikunjungi wisatawan, perlu jeda sejenak untuk beristirahat, untuk bersama-sama dibersihkan agar bisa kembali nyaman,” ungkap Yetti.
Sehingga menurutnya, gerakan Selasa Wagen yang jatuh 40 hari sekali untuk membersihkan Malioboro juga ada keterlibatan langsung para pelaku usaha wisata kawasan itu. “Pelaku usaha wisata juga perlu terus diingatkan agar tidak membuang limbah atau sampah ke saluran drainase,” kata dia.
Pilihan Editor: Bagaimana Warga Mrican Mengubah Kampung Kumuh Menjadi Asri