Inapos JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menunjukkan tekanan signifikan, mengakhiri perdagangan Jumat (30/1/2026) dengan posisi melemah. Mata uang Garuda ini terpantau ditutup pada level Rp 16.786 per dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan sentimen pasar yang kurang kondusif.
Angka ini menunjukkan depresiasi sebesar 0,18% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.755 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah ini ternyata tidak sendirian, melainkan sejalan dengan tren mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga menghadapi tekanan serupa terhadap dolar AS.
Hingga pukul 15.00 WIB, pantauan di bursa menunjukkan bahwa won Korea Selatan dan yen Jepang menjadi dua mata uang dengan kinerja terlemah di Asia. Keduanya ambles signifikan sebesar 0,45%, memimpin daftar mata uang yang terdepresiasi pada hari ini.
Tren pelemahan juga melanda baht Thailand yang anjlok 0,43%, diikuti oleh dolar Taiwan yang ditutup tertekan 0,38%. Ringgit Malaysia pun tak luput dari koreksi, melemah 0,27%. Sementara itu, dolar Singapura mengalami depresiasi 0,16%, dan dolar Hongkong menunjukkan pelemahan tipis sebesar 0,01% pada sore hari ini.
Namun, di tengah gempuran dolar AS, beberapa mata uang di Asia berhasil menunjukkan ketahanan. Peso Filipina tampil sebagai yang terkuat dengan kenaikan 0,1%, sementara rupee India menguat 0,06%. Yuan China juga berhasil mempertahankan posisinya, menguat tipis 0,05% terhadap the greenback, menunjukkan dinamika pasar valuta asing yang beragam di kawasan ini.
Aksi Jual Saham BULL Berlanjut, Danatama Kapital Divestasi Rp 333,78 Miliar
Ringkasan
Nilai tukar rupiah ditutup melemah signifikan pada 30 Januari 2026, mencapai Rp 16.786 per dolar AS. Angka ini menunjukkan depresiasi sebesar 0,18% dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 16.755, mencerminkan sentimen pasar yang kurang kondusif.
Pelemahan rupiah ini sejalan dengan tren mayoritas mata uang di Asia yang juga tertekan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan dan yen Jepang menjadi yang terlemah, ambles 0,45%, disusul oleh baht Thailand dan dolar Taiwan. Namun, beberapa mata uang seperti peso Filipina, rupee India, dan yuan China berhasil menunjukkan penguatan.