Gentle Parenting: Panduan Lengkap dari Pakar + Tips Praktis

Gentle parenting adalah pola asuh yang lembut agar anak tumbuh menjadi sosok yang percaya diri, mandiri, dan bahagia.

Inapos – Di tengah dinamika zaman, banyak orangtua kini beralih dari pola asuh tradisional yang kerap diwarnai ketegasan, menuju pendekatan yang lebih lembut, dikenal sebagai gentle parenting. Pergeseran ini mencerminkan keinginan orangtua untuk membangun hubungan yang lebih kuat dan positif dengan anak-anak mereka.

Salah satu figur publik yang terang-terangan menerapkan gentle parenting adalah aktris Nikita Willy. Gaya pengasuhannya kerap menjadi sorotan dan inspirasi bagi para pengikutnya di Instagram, memicu pertanyaan mendasar: sebenarnya, apa itu gentle parenting?

  • Baca juga: Revalina S. Temat Ingin Terapkan Gentle Parenting, Terinspirasi Nurhayati Subakat
  • Baca juga: 5 Tren Parenting Sepanjang 2024, Ada Gentle Parenting
  • Baca juga: Gentle Parenting Bikin Anak Jadi Lembek, Benarkah?

Mengenal gentle parenting

Berbeda dengan pola asuh konvensional yang seringkali mengandalkan hukuman dan penghargaan sebagai metode utama, gentle parenting menawarkan pendekatan alternatif. Dokter anak Karen Estrella, MD, sebagaimana dilansir oleh Cleveland Clinic pada Senin (10/3/2025), menegaskan bahwa pola asuh ini memiliki potensi dampak positif yang signifikan bagi masa depan anak.

Inti dari gentle parenting adalah pola asuh yang penuh kelembutan, didedikasikan untuk membentuk anak-anak yang mandiri, percaya diri, dan bahagia. Ini dicapai melalui penanaman empati, penghargaan terhadap individu anak, pemahaman yang mendalam atas kebutuhan mereka, serta penetapan batasan yang sehat dan jelas.

Fokus utama dari pola asuh ini adalah pada perkembangan anak yang sesuai dengan usia mereka, bukan semata-mata pada kontrol perilaku melalui imbalan atau sanksi. Sebagai ilustrasi, dalam pola asuh tradisional, perilaku baik anak kerap diganjar dengan hadiah seperti aktivitas menyenangkan, camilan, atau pujian positif.

  • Baca juga: 3 Manfaat Lazy Parenting, Anak Lebih Cepat Mandiri
  • Baca juga: 5 Tips Parenting Menghadapi Anak Gen Beta
  • Baca juga: Perencanaan Finansial Menjawab Kekhawatiran Orangtua Milenial di Era FOMO Parenting

Sebaliknya, saat anak melakukan kesalahan, pola asuh tradisional mungkin akan merespons dengan hukuman fisik yang keras, sebuah tindakan yang seharusnya dihindari. Dalam gentle parenting, pendekatan ini ditinggalkan. Alih-alih berpusat pada sistem hadiah-hukuman, pola asuh yang lembut ini lebih menitikberatkan pada peningkatan kesadaran diri anak dan pemahaman mereka terhadap konsekuensi dari perilaku yang ditunjukkan.

“Idenya adalah untuk menjadi seperti pelatih bagi anak daripada pemberi hukuman,” jelas dr. Estrella, menekankan peran orangtua sebagai pembimbing yang mendukung, bukan sekadar penegak aturan.

Pola asuh yang kolaboratif dan lembut

Disadur dari Parents, gentle parenting juga dikenal sebagai metode mendidik anak tanpa menggunakan rasa malu, menyalahkan, atau menghukum. Pendekatan ini berlandaskan pada prinsip kemitraan atau kerja sama. Dalam pola asuh kolaboratif ini, baik orangtua maupun anak, keduanya memegang peran aktif dalam proses pengasuhan.

Sesuai dengan namanya, pengasuhan ini adalah sebuah pendekatan yang lebih lunak dalam mendidik anak. Orangtua yang mempraktikkannya akan membimbing anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang, bukan dengan cara yang otoriter atau tegas. Menurut Danielle Sullivan, seorang parenting coach, “Gentle parenting adalah gaya pengasuhan yang mana orangtua tidak memaksa anak untuk berperilaku baik dengan cara menghukum atau mengendalikan.”

  • Baca juga: Kala Perilaku Prososial di Indonesia Sepaket dengan Mom-Shaming dalam Dunia Parenting…
  • Baca juga: Tips dan Trik Digital Parenting
  • Baca juga: Gaya Parenting Berdasarkan Zodiak, Mana yang Terbaik?

Sebaliknya, orangtua justru memanfaatkan koneksi emosional, komunikasi yang terbuka, dan metode demokratis lainnya untuk membuat keputusan bersama sebagai satu kesatuan keluarga. Pola asuh yang lembut ini terbangun atas empat pilar utama yang saling terkait: empati, rasa hormat, pengertian, dan penetapan batasan yang sehat.

Sullivan menambahkan, “Gentle parenting mengajarkan anak bahwa mereka dapat aktif di dunia, menetapkan batasan mereka, memercayai kebutuhan mereka sendiri, dan menyuarakan pendapat mereka.” Hal ini memberdayakan anak untuk tumbuh menjadi individu yang utuh dengan kesadaran diri yang tinggi.

Ringkasan

Gentle parenting adalah pendekatan pola asuh modern yang beralih dari metode tradisional yang tegas, bertujuan membangun hubungan positif dan kuat dengan anak. Berbeda dengan pola asuh berbasis hukuman atau hadiah, intinya adalah membentuk anak yang mandiri, percaya diri, dan bahagia. Ini dicapai melalui penanaman empati, penghargaan individu, pemahaman mendalam atas kebutuhan anak, serta penetapan batasan yang sehat dan jelas. Orang tua berperan sebagai pembimbing atau “pelatih”, bukan sekadar penegak aturan.

Pendekatan ini dikenal sebagai metode mendidik anak tanpa menggunakan rasa malu, menyalahkan, atau menghukum. Gentle parenting berlandaskan pada prinsip kemitraan atau kerja sama, di mana baik orang tua maupun anak memegang peran aktif dalam proses pengasuhan. Orang tua membimbing anak dengan penuh kasih sayang, memanfaatkan koneksi emosional, komunikasi terbuka, dan metode demokratis. Pola asuh ini terbangun atas empat pilar utama: empati, rasa hormat, pengertian, dan penetapan batasan yang sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *