
MENTERI Kesehatan atau Menkes RI, Budi Gunadi Sadikin mendorong masyarakat untuk semakin giat melakukan aktivitas fisik sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan. Menurutnya, persepsi masyarakat tentang sehat masih sering terbatas pada tidak terkena penyakit berat seperti jantung, stroke, atau kanker, padahal akar dari berbagai penyakit tersebut salah satunya adalah kurangnya aktivitas fisik.
“Kesehatan itu sering dipikirkan tidak kena jantung, stroke, atau kanker. Padahal penyebab penyakit-penyakit itu salah satunya karena kurang aktivitas fisik,” kata Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri kegiatan lari inklusif bersama penyandang disabilitas bertajuk BTN Run for Disabilities: Run for Inclusivity di Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 7 Februari 2026.
Budi menjelaskan, melalui program cek kesehatan gratis yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menemukan bahwa kurangnya aktivitas fisik masuk dalam lima besar masalah kesehatan pada kelompok dewasa dan lanjut usia. Temuan tersebut sejajar dengan persoalan kesehatan lain seperti tekanan darah tinggi, kesehatan gigi, dan kesehatan jiwa.
“Program cek kesehatan gratis ini adalah program pemerintah terbesar, menjangkau 280 juta penduduk Indonesia dari bayi sampai lansia. Tapi menjaga 280 juta orang tetap sehat tidak bisa hanya lewat program pemerintah. Ini harus menjadi gerakan masyarakat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa aktivitas fisik harus tumbuh dari kesadaran pribadi, bukan sekadar kewajiban mengikuti program. Oleh karena itu, Budi mengapresiasi kegiatan lari inklusif yang melibatkan penyandang disabilitas, pemerintah daerah, serta sektor swasta.
“Saya senang sekali ada BTN dan Wali Kota Surakarta yang mendorong aktivitas fisik, termasuk bagi kaum disabilitas. Kalau teman-teman disabilitas saja bisa lari lima kilometer, masa kita yang sehat-sehat tidak bisa?” ucap dia.
Lari olahraga inklusif
Menurutnya, lari sebagai olahraga yang paling inklusif, murah, dan efektif untuk menjaga kesehatan masyarakat. Lari dapat dilakukan siapa saja karena tidak memerlukan peralatan khusus selain sepatu, kaos, dan celana. Dia juga berbagi pengalaman pribadi terkait manfaat lari bagi kesehatan.
Ia mengaku sempat memiliki kadar kolesterol tinggi yang sulit turun, salah satunya karena suka makan. Namun, sejak rutin berolahraga, khususnya lari, kondisi kesehatannya mulai membaik. Ia menilai lari sebagai olahraga yang sederhana tetapi berdampak besar bagi tubuh.
Kini, Budi mulai tertarik dengan maraton. Olahraga ini, kata dia, memiliki nilai demokratis yang tinggi. Berbeda dengan cabang olahraga lain, marathon memungkinkan semua orang berada di lintasan yang sama tanpa memandang status atau prestasi.
“Di hampir semua olahraga, sangat sulit bertanding dengan juara dunia. Tapi maraton itu satu-satunya olahraga di mana kita bisa lari di lintasan yang sama dengan juara dunia, di waktu yang sama,” tuturnya.
Karena itu, ia menyebut lari sebagai olahraga yang sangat demokratis dan inklusif, di mana semua orang—baik atlet profesional maupun masyarakat umum—memiliki ruang yang sama untuk berpartisipasi. “Marathon itu olahraga yang sangat demokratis, sangat inklusif. Semua bisa ikut, semua bisa merasakan,” katanya.
Rangkaian BTN Jakim
Sementara itu, Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menyampaikan bahwa BTN menyelenggarakan kegiatan BTN Run for Disabilities: Run for Inclusivity sebagai bagian dari rangkaian BTN Jakarta International Marathon (BTN Jakim) yang dijadwalkan Juni 2026. Event tersebut ditargetkan diikuti sekitar 40.000 pelari, termasuk 1.000–2.000 pelari internasional.
“Event lari ini bukan hanya soal olahraga, tapi juga kontribusi sosial. Kami ingin berlari untuk kesehatan sekaligus untuk sesama, khususnya teman-teman disabilitas,” ujarnya.
Kegiatan itu juga menjadi bagian dari implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) BTN, khususnya pada aspek sosial dan inklusivitas, dengan melibatkan atlet paralimpik serta komunitas penyandang disabilitas dalam satu ajang olahraga yang setara. Turut hadir dalam kegiatan itu Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Komite Paralimpiade Nasional atau NPC Indonesia, Rima Ferdianto dan Wali Kota Solo, Respati Ardi.
Respati Ardi mengatakan komitmen Pemerintah Kota Solo dalam memperkuat identitas kota sebagai Kota Inklusif. Ia berharap kegiatan BTN Run for Disabilities: Run for Inclusivity tidak berhenti sebagai agenda tunggal, tetapi menjadi pemicu lahirnya lebih banyak kegiatan olahraga yang melibatkan penyandang disabilitas. Ia juga mendorong agar ke depan setiap event lari di Surakarta turut membuka kategori atau kelas khusus bagi peserta disabilitas. Menurutnya, langkah tersebut akan semakin mempertegas komitmen Surakarta dalam menciptakan ruang yang setara bagi seluruh warganya. “Saya berharap event-event lari ke depan juga membuka kelas disabilitas. Ini bagian dari upaya kita meneguhkan Surakarta sebagai Kota Inklusif,” ujarnya. Adapun Rima Ferdianto menyambut positif penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia berharap semakin banyak event olahraga serupa yang melibatkan penyandang disabilitas, sehingga kesadaran publik terhadap isu inklusivitas terus meningkat. “Harapannya dengan adanya event seperti BTN ini, kesadaran terhadap disabilitas bisa semakin tumbuh dari Sabang sampai Merauke. Para orang tua juga mulai terbuka karena melihat perhatian negara terhadap penyandang disabilitas itu seratus persen,” kata Rima.
Pilihan editor: 7 Jenis Olahraga yang Efektif Menurunkan Kadar Kolesterol