IHSG berpotensi menguji level 8.300 menjelang rilis BI rate

Pada perdagangan Jumat pekan lalu, IHSG menguat 3,49 persen dan ditutup di level 8.212,27.

Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menguji level resistance krusial di 8.300, dengan level support di 8.129 selama periode perdagangan 18-20 Februari 2026. Menurut Hari, dinamika IHSG pada pekan ini akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor penting, salah satunya adalah pengumuman suku bunga acuan atau BI Rate oleh Bank Indonesia.

“Sentimen kebijakan suku bunga memegang peranan vital karena berpotensi besar menggerakkan sektor perbankan dan properti. Hal ini sejalan dengan ekspektasi terhadap stabilitas likuiditas dan peningkatan permintaan kredit,” jelas Hari dalam siaran pers yang diterima pada Rabu, 18 Februari 2026. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia sendiri dijadwalkan berlangsung pada 18-19 Februari 2026, yang hasilnya tentu akan dicermati ketat oleh para investor.

Selain kebijakan moneter, faktor fundamental juga akan menjadi katalis positif bagi pasar modal. Rilis laporan keuangan tahunan 2025 secara umum diharapkan memberikan dorongan signifikan, terutama bagi emiten dengan catatan pertumbuhan laba yang solid dan margin keuntungan yang terjaga. Di sisi lain, Hari menambahkan, investor juga perlu mencermati perkembangan reformasi Bursa Efek Indonesia. Progresnya yang cukup konstruktif diyakini dapat memperkuat kepercayaan pasar dalam jangka menengah.

Meski demikian, Hari mengingatkan bahwa selama level resistance 8.300 belum berhasil ditembus, pergerakan IHSG cenderung akan bergerak sideways atau mendatar dengan volatilitas yang terbatas. Kondisi ini menuntut kehati-hatian dari para pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi.

Pada pekan sebelumnya, tepatnya Jumat, 13 Februari 2026, IHSG berhasil mencatat penguatan yang cukup signifikan sebesar 3,49 persen, ditutup pada level 8.212,27. Menurut Hari, penguatan ini mengindikasikan sinyal awal pemulihan pasca isu yang sempat melibatkan Morgan Stanley Capital International (MSCI), meskipun tekanan eksternal masih menjadi bayang-bayang yang perlu diwaspadai.

Hari juga merinci bahwa penguatan IHSG pekan lalu didukung oleh kinerja gemilang saham-saham konglomerasi seperti BUMI, RATU, dan BUVA. Namun, tidak semua saham menikmati kenaikan. Terjadi tekanan jual yang cukup besar dari asing pada saham BBCA (Bank Central Asia), dengan total outflow mencapai Rp 3,8 triliun dalam sepekan terakhir, mengakibatkan koreksi harga sebesar -6,19 persen.

Pilihan Editor: OJK: Buyback dan Kenaikan Free Float Bisa Berdampingan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *