Anomali Persebaya saat gasak PSM, taktik klasik Bernardo Tavares teruji

Yang menarik, taktik lawas Bernardo Tavares saat menangani PSM Makassar, ia bawa ke Persebaya saat melawan tim yang pernah dibelanya.

bali.jpnn.com, SURABAYA – Persebaya kembali ke jalur kemenangan setelah meraih dua hasil minor pada dua laga terakhir kompetisi Super League 2025-2026.

Menjamu PSM Makassar di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, kemarin (25/2) malam, Persebaya menang tipis dengan skor 0 – 1.

Gol kemenangan Persebaya dicetak penyerang sayap Timnas Timor Leste, Gali Freitas pada menit ke-27 melalui sepakan plesing yang gagal diantisipasi kiper PSM Makassar, Reza Arya Pratama.

Yang menarik, taktik lawas Bernardo Tavares saat menangani PSM Makassar, ia bawa ke Persebaya saat melawan tim yang pernah dibelanya.

Persebaya cenderung bermain negatif, lebih banyak bertahan, dibanding saat kalah melawan Bhayangkara FC dan Persijap Jepara.

Taktik klasik terlihat dari penguasaan bola dan passing pemain Persebaya yang minim dibandingkan sang lawan.

Sepanjang laga, ball possession Persebaya hanya 41 persen, sementara PSM Makassar lebih menguasai pertandingan dengan persentase mencapai 59 persen.

Pemain Persebaya juga minim passing, hanya menghasilkan 280 kali operan, 213 di antaranya berhasil dengan akurasi hanya 77 persen.

Pemain PSM Makassar justru lebih dominan dengan melakukan 369 kali passing, 316 di antaranya berhasil dengan akurasi mencapai 86 persen.

Meski kalah bola dan passing, tetapi Persebaya sangat dominan dalam hal mencetak peluang.

Persebaya berhasil melepaskan 20 kali shots on target, enam di antaranya mengarah ke gawang Reza Arya Pratama, sementara PSM Makassar hanya mencetak enam kali tembakan ke arah gawang, tetapi hanya satu yang tepat sasaran.

Fakta lainnya, pemain Persebaya mencetak 14 kali chances created, sementara PSM Makassar hanya empat kali.

Dominasi pemain Persebaya kembali terlihat dari sisi touch in opp.box dengan mencetak peluang 43 kali, sementara PSM Makassar hanya 25 kali.

 Touches in opp. box adalah statistik yang menghitung berapa kali seorang pemain menyentuh bola di dalam area penalti tim lawan selama pertandingan.

Statistik ini adalah indikator utama untuk melihat seberapa aktif dan berbahaya seorang pemain dalam mengancam gawang lawan.

Namun, dari sisi passes to final third, PSM Makassar lebih mendominasi dengan melakukan 43 kali, sementara tuan rumah Persebaya hanya 28 kali.

Passes to final third adalah statistik yang menghitung jumlah operan sukses yang dikirimkan oleh seorang pemain dari area pertahanan atau tengah lapangan masuk ke wilayah sepertiga akhir lapangan lawan.

Karena cenderung bermain negatif, pertahanan Persebaya terlihat sangat solid dengan melakukan 12 kali tekel, 13 kali intersep dan 12 kali sapuan.

Lini belakang PSM Makassar di lain sisi mencetak delapan kali tekel, 19 kali intersep dan delapan kali sapuan. (lia/JPNN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *