NAB reksadana susut, HPAM tetap optimistis prospek investasi jangka panjang

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dana kelolaan industri reksadana mengalami penurunan pada Juni 2026. Nilai aktiva bersih (NAB) reksadana tercatat sebesar Rp 652,9 triliun, turun 4,79% secara bulanan (month to month/MTM) dari Rp 685,76 triliun pada Mei 2026. Baca Juga: Pekan Pertama Juli, Penerbitan Surat Utang Korporasi Capai Rp 10,15 Triliun Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution...

Inapos – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dana kelolaan industri reksadana mengalami penurunan pada Juni 2026.

Nilai aktiva bersih (NAB) reksadana tercatat sebesar Rp 652,9 triliun, turun 4,79% secara bulanan (month to month/MTM) dari Rp 685,76 triliun pada Mei 2026.

Pekan Pertama Juli, Penerbitan Surat Utang Korporasi Capai Rp 10,15 Triliun

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi Riawan menjelaskan, penurunan NAB tersebut dipengaruhi oleh kombinasi pelemahan nilai pasar aset yang menjadi underlying portofolio serta meningkatnya kehati-hatian investor di tengah volatilitas pasar.

Menurut Reza, sepanjang Juni pasar saham masih menghadapi tekanan akibat berbagai sentimen global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta arus dana asing yang belum stabil.

Di sisi lain, pergerakan harga obligasi juga turut memengaruhi kinerja reksadana pendapatan tetap maupun reksadana campuran.

“Kondisi tersebut membuat NAB industri terkoreksi melalui mekanisme mark-to-market, sehingga penurunan NAB tidak selalu mencerminkan terjadinya redemption dalam jumlah besar,” ujar Reza kepada Kontan.co.id, Rabu (8/7/2026).

BEI Buka Suara soal Watchlist S&P DJI, Siap Bahas Status Pasar Indonesia

Ia menambahkan, sebagian investor juga melakukan rebalancing portofolio dengan mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih defensif, seperti Surat Berharga Negara (SBN) ritel, deposito, maupun reksadana pasar uang.

Meski demikian, Reza menilai langkah tersebut lebih merupakan penyesuaian alokasi aset dibandingkan perpindahan investasi secara permanen.

Menurutnya, reksadana tetap memiliki peran penting sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang dalam portofolio yang terdiversifikasi.

Terkait kinerja internal perusahaan, Reza mengatakan perubahan dana kelolaan HPAM selama Juni dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni perubahan nilai pasar portofolio dan arus masuk maupun keluar dana investor.

IHSG Turun ke Level 5.934 di Awal Sesi Rabu (8/7), Watchlist S&P DJI Membebani Pasar

Di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi, faktor mark-to-market menjadi kontributor utama terhadap perubahan aset kelolaan (asset under management/AUM).

“Terlepas dari dinamika tersebut, Henan Asset tetap berfokus pada pengelolaan portofolio yang disiplin dan prudent, menjaga kualitas aset, serta mengedepankan komunikasi yang aktif dengan investor agar keputusan investasi tetap berorientasi pada tujuan jangka panjang, bukan semata-mata dipengaruhi volatilitas pasar jangka pendek,” jelas Reza.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengungkapkan, industri reksadana mencatat net redemption sebesar Rp 23,75 triliun secara bulanan pada Juni 2026.

Sementara secara tahun berjalan (year to date/YTD), net redemption tercatat sebesar Rp 2,14 triliun.

“Kinerja industri pengelolaan investasi mengalami moderasi pada Juni 2026. Nilai aktiva bersih reksadana mencapai Rp 652,9 triliun atau turun 4,79% secara bulanan dan 3,32% secara year to date,” ujar Hasan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK, Selasa (7/7/2026).

Resmi Melantai Hari Ini (8/7), Saham Esa Medika Mandiri (EMMI) Naik 11,7%

Di sisi lain, Hasan menyebut jumlah investor pasar modal terus bertambah. Pada Juni 2026, jumlah investor meningkat sekitar 1,21 juta dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga total investor pasar modal mencapai 28,96 juta atau tumbuh 42,22% secara year to date.

Dari sisi penghimpunan dana, pasar modal juga masih menjalankan fungsi intermediasi dengan baik.

Hingga Juni 2026, nilai penghimpunan dana (fundraising) korporasi melalui pasar modal telah mencapai Rp 112,67 triliun. Selain itu, masih terdapat 11 rencana penawaran umum yang berada dalam pipeline.

Sebagai catatan, pada Mei 2026 NAB reksadana masih tercatat sebesar Rp 685,76 triliun atau turun 1,52% dibandingkan April 2026 yang sebesar Rp 696,34 triliun.

Meski demikian, secara year to date hingga Mei 2026, NAB reksadana masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 1,55%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *