Dampak Perubahan Iklim: Pola Tanam Masyarakat Adat Ngato Taro Terancam

Perubahan iklim mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat adat, khususnya yang menggantungkan hidupnya pada pola-pola ekonomi lokal adat setempat.

Perubahan iklim yang semakin ekstrem kini tak terbantahkan, kian memperlihatkan dampak mendalamnya, terutama bagi masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada pola ekonomi lokal. Fluktuasi musim hujan dan kemarau yang tidak menentu telah merombak tatanan pola tanam yang selama ini diwariskan secara turun-temurun, mengancam ketahanan pangan dan budaya mereka.

Rukmini Toheke, seorang tokoh masyarakat adat Ngato Taro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, secara langsung merasakan perubahan drastis ini. “Dahulu musim tanam begitu teratur, kini tidak menentu. Hujan kadang tak kunjung henti, di lain waktu panas berkepanjangan,” tuturnya kepada Tempo di Gedung Serbaguna Senayan, Jakarta, pada Rabu, 27 Agustus 2025. Perubahan tak terduga ini berakibat fatal; beberapa kali panen padi gagal, dan hasil yang didapat anjlok drastis.

Perempuan yang juga dikenal sebagai penjaga Hutan Toro tersebut mengenang masa lalu yang lebih stabil. Sebelum perubahan iklim merajalela, panen padi dengan bibit lokal biasanya dapat dilakukan dua kali dalam satu setengah tahun. “Ada periode istirahat sawah selama dua bulan setelah panen, barulah lahan bisa kembali diolah,” jelasnya, menggambarkan kearifan lokal dalam menjaga kesuburan tanah.

Namun, kondisi saat ini berbanding terbalik. Lahan sawah kini jarang diistirahatkan, dan mayoritas petani tidak lagi menggunakan bibit padi lokal. “Penggunaan bibit padi lokal memang membutuhkan waktu lebih lama. Namun, saya ingin garis bawahi, kearifan leluhur seperti ‘pakavoli tanah’ atau mengistirahatkan sawah, kini nyaris punah,” imbuhnya dengan prihatin. Hanya segelintir petani yang masih mampu menerapkan praktik ini, terutama mereka yang anaknya tidak bersekolah dan bisa sepenuhnya fokus pada pengelolaan sawah.

Menurunnya produktivitas pertanian akibat perubahan iklim ini berdampak langsung pada ekonomi lokal masyarakat adat. Penurunan hasil panen yang signifikan memaksa mereka menyeimbangkan kebutuhan pangan keluarga, biaya pendidikan anak, dan upaya pelestarian tradisi bertani. “Dari hasil panen padi yang sebelumnya bisa mencapai 90 blek, kini hanya tersisa sekitar 22 blek,” ungkap Rukmini, menyoroti betapa parahnya kemerosotan ekonomi yang mereka alami.

Dampak domino dari perubahan iklim bahkan merambah struktur sosial masyarakat. Banyak warga, khususnya generasi muda, terpaksa meninggalkan kampung halaman untuk mencari penghidupan lain, beralih profesi menjadi tukang, pegawai toko, atau bekerja di pemerintahan. “Hanya sebagian kecil yang memilih bertahan di kampung, umumnya mereka yang putus sekolah atau masih terikat kuat dalam komunitas adat dan pertanian,” ujarnya, menggambarkan pergeseran demografi yang mengkhawatirkan.

Rukmini menekankan bahwa masyarakat adat memandang manusia dan alam sebagai satu kesatuan utuh, sebuah konsep yang mereka sebut ‘katu buah’. Alam tidak hanya dianggap sebagai sumber penghidupan semata, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri yang harus dijaga keberlanjutannya agar ekosistem dan mata pencarian tetap terjaga. “Merusak alam berarti merusak kehidupan generasi sekarang dan mendatang,” tegasnya, menyoroti filosofi mendalam yang telah lama menjadi panduan mereka.

Oleh karena itu, ia juga menitikberatkan pentingnya regulasi yang menghormati dan melindungi kearifan lokal. “Pemerintah perlu menciptakan regulasi yang menghargai kearifan lokal. Jangan seenaknya membuka lahan besar-besaran tanpa mempertimbangkan tradisi pertanian padi yang telah berakar kuat di tengah masyarakat,” pungkas Rukmini, menyerukan perhatian serius dari pihak berwenang.

Pilihan editor: Beban Anggaran Anggota Dewan

Ringkasan

Perubahan iklim ekstrem secara signifikan mengancam pola tanam masyarakat adat Ngato Taro di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Fluktuasi musim hujan dan kemarau yang tidak menentu telah menyebabkan gagal panen padi dan penurunan drastis hasil pertanian, yang sebelumnya teratur dengan praktik kearifan lokal seperti ‘pakavoli tanah’ (mengistirahatkan sawah). Dampaknya, produktivitas panen anjlok dari sekitar 90 blek menjadi hanya 22 blek, menghantam ketahanan pangan dan ekonomi lokal mereka.

Kondisi ini memaksa generasi muda meninggalkan kampung untuk mencari mata pencarian lain, menggeser struktur sosial masyarakat adat. Masyarakat Ngato Taro memegang teguh filosofi ‘katu buah’ yang memandang manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang harus dijaga keberlanjutannya. Oleh karena itu, tokoh masyarakat Rukmini Toheke menekankan pentingnya regulasi pemerintah yang menghormati dan melindungi kearifan lokal dalam pengelolaan lahan pertanian demi keberlangsungan hidup dan budaya mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *