Pasar emas tengah mengalami lonjakan luar biasa seiring para investor secara gencar mencari perlindungan aman bagi investasi mereka di tengah lanskap ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Fenomena ini telah mendorong harga emas meroket, menempatkannya pada posisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam kurun waktu setahun terakhir, nilai emas telah melambung hampir sepertiga, berhasil menembus level US$ 3.550 per ons troi pada Rabu (3/9/2025) dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Proyeksi dari sejumlah analis bahkan mengindikasikan bahwa tren kenaikan ini akan berlanjut, didorong oleh gejolak geopolitik yang semakin intens.
Mengapa Emas Begitu Populer di Tengah Badai Ekonomi?
Menurut Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade Australia, emas telah lama menjadi pilihan favorit para investor, terutama selama periode ketidakpastian atau pergolakan. Ini karena nilai emas dianggap relatif stabil, menawarkan kontras yang jelas dibandingkan fluktuasi pasar saham. “Satu hal yang paling dibenci pasar keuangan adalah ketidakpastian. Dalam skenario seperti itu, emas secara inheren menjadi aset pilihan bagi para pelaku pasar,” jelas Waterer kepada Al Jazeera.
Meskipun secara historis investasi emas mungkin hanya menghasilkan imbal hasil yang moderat, dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan harga yang tajam. Gejolak internasional seperti konflik di Ukraina dan Gaza, serta perang dagang yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, telah menjadi katalis utama di balik kenaikan ini. Lebih lanjut, emas juga menarik bagi investor yang merasa skeptis terhadap pemerintah dan lembaga keuangan, mengingat sifatnya sebagai komoditas yang dapat dimiliki dan disimpan secara fisik.
Bagaimana Investor Mengakuisisi Logam Mulia Ini?
Ada dua pendekatan utama dalam perdagangan emas. Metode pertama melibatkan pembelian emas batangan dalam bentuk fisik, seperti batangan, ingot, perhiasan, atau koin. Opsi kedua adalah melalui produk keuangan yang memungkinkan investor membeli dan menjual emas berjangka—kontrak untuk membeli atau menjual emas pada harga yang disepakati—serta dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang mereplikasi pergerakan harga emas. Sementara emas batangan mudah diakses oleh individu, produk keuangan menawarkan keuntungan signifikan bagi lembaga karena meniadakan kebutuhan untuk penanganan fisik atau penyimpanan logam dalam jumlah besar.
Hubungan Terbalik Emas dengan Dolar AS
Penting untuk dipahami bahwa emas umumnya didenominasi dalam dolar AS, dan nilainya memiliki hubungan terbalik dengan mata uang tersebut. Implikasinya jelas: jika dolar AS melemah, harga emas cenderung naik, dan sebaliknya. Dinamika ini menjadi salah satu faktor kunci yang memengaruhi keputusan investasi emas.
Pengaruh Donald Trump dalam Mendorong Harga Emas
Lonjakan harga emas pada bulan April dapat dikaitkan dengan pengumuman tarif “Hari Pembebasan” oleh Trump yang memicu gelombang ketidakpastian besar mengenai masa depan perdagangan global. Baru-baru ini, serangan Trump yang berkelanjutan terhadap independensi Federal Reserve AS—lembaga yang secara tradisional dianggap netral dari politik—juga turut mendorong harga emas lebih tinggi. Trump secara berulang kali mendesak bank sentral untuk memangkas suku bunga guna merangsang pertumbuhan ekonomi, sembari menyatakan keinginannya agar nilai dolar AS melemah untuk membuat ekspor AS lebih kompetitif.
Kyle Rodda, Analis Pasar Keuangan Senior di Capital.com, berpendapat bahwa kedua skenario ini membuat emas semakin menarik bagi para investor. “Jika suku bunga naik, emas menjadi kurang menarik karena saya bisa memperoleh keuntungan lebih banyak dengan menyimpannya di aset berbunga, seperti rekening bank,” ujar Rodda kepada Al Jazeera. “Namun, jika suku bunga turun, bunga yang saya terima akan lebih rendah, membuat emas relatif lebih menarik untuk dimiliki.” Logika yang sama berlaku untuk aset berbunga lainnya, seperti obligasi. Rodda menambahkan bahwa ketika dolar AS melemah, investor asing yang berdagang dalam mata uang selain dolar cenderung membeli lebih banyak emas karena mereka akan mendapatkan nilai lebih untuk uang mereka.
Gejolak Ekonomi di Luar AS dan Perannya dalam Kenaikan Harga Emas
Kecemasan ekonomi di berbagai belahan dunia juga turut memperkuat argumen untuk kenaikan harga emas. Contohnya, Poundsterling Inggris dan Yen Jepang mengalami kemerosotan dalam beberapa hari terakhir akibat kekhawatiran atas memburuknya kondisi keuangan publik di Inggris dan Jepang. Yen juga tertekan oleh ketidakstabilan politik di partai yang berkuasa di Jepang.
“Ketika mata uang Anda melemah, emas dipandang sebagai aset yang sangat baik untuk melindungi dari risiko inflasi. Tidak seperti mata uang, pasokan emas lebih terbatas dan oleh karena itu kurang rentan terhadap dilusi harga. Hal ini juga berlaku untuk negara-negara lain, seperti Turki dan Mesir,” kata Waterer.
Rodda juga mencatat bahwa emas semakin menjadi pilihan populer di kalangan pemerintah asing yang memiliki cadangan dolar AS dalam jumlah besar hasil dari perdagangan, namun kini kurang percaya pada obligasi pemerintah di bawah pemerintahan Trump. “Umumnya, suatu negara akan menggunakan dolar ini untuk membeli obligasi pemerintah guna menyimpan uang di tempat yang aman dan mendapatkan suku bunga,” jelas Rodda. “Namun, kebijakan perdagangan Presiden Trump telah mengurangi kepercayaan terhadap kepemilikan aset AS, terutama di antara rival strategisnya. Akibatnya, negara-negara yang memegang banyak dolar kini menggunakannya untuk membeli emas sebagai penyimpan nilai, sehingga secara langsung mendorong harga emas.”
Ringkasan
Harga emas meroket, mencapai rekor tertinggi US$ 3.550 per ons troi, karena investor mencari perlindungan aman di tengah ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik yang intens. Dalam setahun terakhir, nilainya telah melambung hampir sepertiga. Emas menjadi aset pilihan utama karena stabilitas nilainya, menawarkan kontras yang jelas dibandingkan fluktuasi pasar saham di tengah ketidakpastian.
Kenaikan harga ini didorong oleh gejolak internasional, perang dagang, dan skeptisisme terhadap lembaga keuangan. Kebijakan Donald Trump yang menciptakan ketidakpastian perdagangan serta tekanan terhadap suku bunga juga turut meningkatkan daya tarik emas. Emas memiliki hubungan terbalik dengan dolar AS, dan pelemahan mata uang global serta berkurangnya kepercayaan pemerintah asing pada aset AS semakin mendorong permintaan logam mulia ini sebagai penyimpan nilai.