
Inapos – JAKARTA. Pasar kripto kembali bergejolak, dengan harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi signifikan. Pada Jumat (30/1/2026) pukul 14.25 WIB, data dari Coin Market Cap menunjukkan bahwa harga Bitcoin telah terkoreksi 7,71% dalam sepekan terakhir, mencapai level US$ 82.650.
Koreksi ini diperparah oleh penurunan tajam yang disaksikan oleh para investor kripto. Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menggambarkan situasi ini sebagai “malam yang mencekam” bagi pasar. Dalam kurun waktu 24 jam saja, harga Bitcoin anjlok hampir US$ 10.000, menyentuh level US$ 81.000. Kejatuhan drastis ini memicu gelombang likuidasi massal posisi long, dengan nilai mencapai US$ 1,75 miliar di seluruh bursa. Tak hanya Bitcoin, aset kripto besar lainnya seperti Ethereum dan XRP juga turut ambles, dengan penurunan berkisar antara 7% hingga 9%.
Pemicu utama di balik kepanikan pasar ini adalah potensi pergeseran peta politik di Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Rumor kuat yang beredar menyebutkan Presiden Trump berencana mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed, menggantikan Jerome Powell.
Perubahan kepemimpinan ini sangat krusial karena Warsh dikenal memiliki reputasi hawkish, yang berarti ia cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Ini kontras dengan kandidat favorit pasar sebelumnya yang lebih pro-kebijakan suku bunga rendah. Kekhawatiran investor akan berlanjutnya era likuiditas ketat memicu aksi jual besar-besaran di pasar kripto.
Menanggapi situasi ini, Fahmi Almuttaqin kepada Kontan pada Jumat (30/1/2026) menegaskan, “Koreksi tajam ini membuktikan bahwa Bitcoin lebih berperilaku sebagai aset berisiko (risk-on) yang sangat volatil dan sensitif terhadap kebijakan moneter, bukan seperti digital gold.” Pernyataan ini menyoroti bahwa harga Bitcoin sangat rentan terhadap dinamika kebijakan ekonomi global.
Meskipun demikian, Fahmi juga mengingatkan para investor untuk lebih cermat dalam memahami langkah politik Trump. Ia berpendapat bahwa pencalonan Kevin Warsh, meskipun dikenal tegas, bisa jadi merupakan strategi Trump untuk membuat The Fed lebih kooperatif dalam menangani beban bunga utang AS yang kini membebani anggaran negara. Warsh sendiri dikenal sebagai sosok yang sangat kritis terhadap kemandirian kaku The Fed.
“Kami melihat ini sebagai fase kapitulasi di mana pasar sedang mencerna transisi kekuasaan di bank sentral. Jika Warsh akhirnya melunak demi menyelamatkan fiskal AS dari beban utang, maka volatilitas ini hanyalah guncangan sementara sebelum rotasi modal kembali terjadi,” pungkas Fahmi. Ini menunjukkan bahwa meskipun saat ini pasar diliputi ketidakpastian, ada potensi pemulihan jika dinamika politik The Fed bergerak ke arah yang lebih kondusif bagi stabilitas ekonomi AS.
Ringkasan
Harga Bitcoin (BTC) terkoreksi signifikan sebesar 7,71% dalam sepekan terakhir, mencapai US$ 82.650 pada 30 Januari 2026. Penurunan tajam hampir US$ 10.000 dalam 24 jam memicu likuidasi posisi long senilai US$ 1,75 miliar, dengan aset kripto utama lain juga ambles. Koreksi ini terutama disebabkan oleh rumor potensi pencalonan Kevin Warsh yang dikenal hawkish sebagai Ketua The Fed oleh Presiden Trump, yang memicu kekhawatiran investor akan kebijakan suku bunga tinggi.
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menegaskan bahwa koreksi ini membuktikan Bitcoin berperilaku sebagai aset berisiko yang sangat volatil dan sensitif terhadap kebijakan moneter. Ia berpendapat pencalonan Warsh mungkin strategi Trump agar The Fed lebih kooperatif menangani beban utang AS. Fahmi melihat ini sebagai fase kapitulasi pasar yang mencerna transisi kekuasaan di bank sentral, dengan potensi pemulihan jika Warsh melunak demi stabilitas fiskal AS.