JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berpeluang menguat secara terbatas pada awal pekan depan, dengan target untuk kembali menyentuh level 7.900. Optimisme ini muncul di tengah dinamika pasar yang terus bergejolak.
Menurut Hendra Wardana, Analis sekaligus Founder Republik Investor, strategi paling bijak bagi para investor adalah melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham pilihan yang memiliki katalis positif. Namun, ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap volatilitas global yang masih tinggi, terutama menjelang pengumuman arah kebijakan dari Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed.
Hendra menjelaskan, tekanan pasar tercermin dari penutupan IHSG pada perdagangan Jumat (22/8) yang melemah 31,86 poin atau 0,40 persen, berakhir di level 7.858,85. Koreksi ini sebagian besar dipicu oleh rilis data Neraca Pembayaran (Balance of Payments/BoP) kuartal II-2025 yang kembali mencatat defisit signifikan sebesar 3 miliar dollar AS, setara 0,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Catatan defisit ini menjadi yang kesembilan kalinya secara berturut-turut, sebuah indikasi tekanan berkelanjutan terhadap stabilitas eksternal ekonomi Tanah Air. Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan tipis, bergerak di level Rp16.340 per dolar AS berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).
Kendati demikian, Hendra mengamati bahwa pelemahan IHSG masih bersifat konsolidatif, artinya pasar sedang mencari keseimbangan baru. Secara teknikal, indeks berhasil mempertahankan level support di area 7.820–7.830, yang membuka peluang terjadinya rebound menuju level resistance 7.900–7.950 pada awal pekan mendatang. Ini menunjukkan adanya potensi pembalikan arah setelah tekanan sebelumnya.
Sentimen utama yang akan menjadi sorotan pasar dan penentu arah pergerakan ke depan adalah pidato Gubernur The Fed, Jerome Powell, dalam forum Jackson Hole Symposium. Pernyataan Powell diharapkan akan memberikan sinyal yang lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, yang kerap memiliki dampak signifikan terhadap pasar global, termasuk Indonesia. Di samping itu, penguatan harga beberapa komoditas logam, khususnya tembaga, diperkirakan akan menjadi katalis positif tambahan bagi emiten-emiten yang bergerak di sektor berbasis mineral.
Melihat kondisi pasar dan sentimen yang ada, Hendra Wardana merekomendasikan beberapa saham pilihan yang dinilai menarik untuk dicermati oleh investor. Berikut adalah saham-saham dengan prospek cerah:
1. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
Saham BRMS menjadi pilihan menarik, didukung oleh tren kenaikan harga tembaga global yang berkelanjutan. Selain itu, eksposur perseroan yang kuat di sektor tambang emas dan mineral memberikan nilai tambah yang signifikan. Dengan prospek positif ini, BRMS berpotensi melanjutkan penguatan dengan target harga yang diperkirakan mencapai 550.
2. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)
SCMA juga mendapatkan sentimen positif yang kuat menyusul kabar masuknya nama besar Anthony Salim, yang menambah kepemilikan saham pada induk usahanya, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Kehadiran Anthony Salim dinilai mampu memperkuat kepercayaan pasar terhadap prospek jangka panjang Grup EMTK, khususnya di segmen bisnis media dan digital. Dengan struktur kepemilikan yang semakin solid, terbuka peluang lebih besar untuk ekspansi konten dan sinergi bisnis yang lebih luas, menjadikan target harga SCMA di 350 tetap relevan dan prospektif.
3. PT WIR Asia Tbk (WIRG)
Saham WIRG, emiten teknologi dan metaverse, juga menarik untuk dicermati. Setelah mengalami koreksi yang cukup dalam, WIRG kini terindikasi memasuki fase akumulasi, menunjukkan potensi adanya minat beli kembali. Prospek pengembangan ekosistem digital yang terus bertumbuh, ditambah dengan potensi pemulihan belanja korporasi di sektor teknologi, memberikan ruang bagi WIRG untuk mencatatkan rebound signifikan dengan target harga di 270.
Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua rekomendasi dan analisis saham berasal dari analis sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Pastikan untuk melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi.
Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berpeluang menguat terbatas awal pekan depan menuju level 7.900, meskipun sebelumnya ditutup melemah akibat defisit Neraca Pembayaran Q2-2025. Analis menyarankan strategi akumulasi bertahap pada saham pilihan, namun investor perlu mewaspadai volatilitas global menjelang pidato Gubernur The Fed. Kenaikan harga komoditas logam juga diharapkan menjadi katalis positif.
Di tengah kondisi ini, beberapa saham direkomendasikan untuk dicermati. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menarik berkat tren kenaikan harga tembaga global, sementara PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) didukung sentimen positif dari masuknya Anthony Salim. PT WIR Asia Tbk (WIRG) juga berpotensi rebound setelah koreksi, didorong oleh prospek ekosistem digital dan pemulihan belanja korporasi.