IHSG Pulih, Surplus Dagang & PMI Manufaktur Jadi Penyelamat Ekonomi?

IHSG pulih didukung surplus dagang RI US$4,2 miliar dan PMI manufaktur ekspansif 51,5. Kondisi politik kondusif turut mendorong perbaikan indeks.

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal pemulihan yang signifikan, berhasil meredakan tekanan setelah sempat terkontraksi cukup dalam pada awal perdagangan. Rebound ini didorong oleh serangkaian data ekonomi positif, terutama neraca dagang dan indeks produktivitas manufaktur yang kembali solid.

Pada penutupan sesi I perdagangan Senin (1/9/2025), indeks komposit ini tercatat parkir di level 7.770,98, hanya mengalami koreksi tipis 0,76%. Angka tersebut jauh membaik dibandingkan awal perdagangan yang sempat anjlok hingga 3,6%, menunjukkan adanya daya tahan pasar yang kuat.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa perbaikan kinerja IHSG tak lepas dari beberapa faktor krusial. Salah satunya adalah kondisi keamanan dalam negeri yang berangsur kondusif. “Sejauh ini kondisi politik dan keamanan domestik cukup kondusif karena belum ada lagi aksi demonstrasi lanjutan, baik itu di Jakarta maupun daerah lain,” ujar Nafan saat dihubungi Bisnis, Senin (1/9/2025).

Selain faktor keamanan, rilis data makro ekonomi terbaru Indonesia juga menjadi pengungkit utama bagi pergerakan indeks komposit. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus mengesankan pada Juli 2025, mencapai US$4,2 miliar. Kinerja positif ini ditopang oleh ekspor yang tetap tumbuh kuat, sementara impor mencatatkan kontraksi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara rinci, ekspor Indonesia pada Juli 2025 mencapai US$24,8 miliar, melonjak 4,2% secara tahunan (year on year/YoY). Secara kumulatif, total kinerja ekspor sepanjang periode Januari hingga Juli 2025 berhasil tumbuh 8% YoY, menembus angka US$160,2 miliar. Di sisi lain, impor Indonesia pada Juli 2025 mencapai US$20,6 miliar atau turun 8,9% YoY. Meskipun demikian, secara kumulatif, impor sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini masih menunjukkan peningkatan 3,4% secara tahunan dengan nilai total mencapai US$136,5 miliar.

Aktivitas manufaktur Indonesia juga turut memberikan dorongan signifikan setelah kembali memasuki fase ekspansi. Setelah sempat terkontraksi selama empat bulan terakhir, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia berhasil melonjak ke level 51,5 pada Agustus 2025. Capaian ini menunjukkan peningkatan substansial dari bulan sebelumnya yang berada di angka 49,2, menandakan pertumbuhan di atas ambang batas 50.

“Para pelaku investor masih melihat fundamental makro ekonomi Indonesia yang solid. Hal ini tercermin dari PMI manufaktur Indonesia yang mulai kembali ekspansif dan neraca dagang Indonesia yang konsisten mempertahankan surplus,” pungkas Nafan, menegaskan keyakinan pasar terhadap ekonomi domestik.

Sementara itu, riset dari tim Phintraco Sekuritas mengemukakan bahwa secara teknikal terdapat pelebaran negatif slope pada MACD, seiring dengan indikator Stochastic RSI yang bergerak menuju oversold area. Berdasarkan analisis ini, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang 7.700 hingga 7.780 pada perdagangan sesi kedua hari ini.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal pemulihan signifikan, berhasil meredakan tekanan setelah sempat terkoreksi dalam. Pada penutupan sesi I, IHSG tercatat di level 7.770,98, hanya terkoreksi tipis 0,76% setelah sempat anjlok hingga 3,6%. Pemulihan ini terutama didorong oleh serangkaian data ekonomi positif serta kondisi keamanan domestik yang berangsur kondusif.

Data makro ekonomi menunjukkan neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus US$4,2 miliar pada Juli 2025, ditopang oleh ekspor yang tumbuh kuat. Selain itu, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia melonjak ke level 51,5 pada Agustus 2025, menandakan kembalinya ekspansi setelah empat bulan terkontraksi. Faktor-faktor ini menegaskan fundamental makro ekonomi Indonesia yang solid di mata investor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *