Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai impor Indonesia pada Juli 2025 mencapai US$ 20,57 miliar. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan sebesar 5,68 persen dibandingkan dengan Juli 2024 yang tercatat US$ 21,86 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan dalam konferensi pers daring pada Senin, 1 September 2025, bahwa total nilai impor yang terkoreksi ini didorong oleh dinamika sektor tertentu.
Secara lebih rinci, nilai impor migas pada Juli 2025 tercatat sebesar US$ 2,51 miliar, anjlok 29,36 persen secara tahunan dari US$ 3,56 miliar pada periode yang sama sebelumnya. Sementara itu, impor nonmigas juga mengalami koreksi tipis sebesar 1,29 persen, turun menjadi US$ 18,06 miliar dari sebelumnya US$ 18,3 miliar. Pudji Ismartini menegaskan, kontribusi utama penurunan nilai impor secara tahunan ini berasal dari sektor migas, dengan andil penurunan sebesar 4,78 persen.
Ditinjau dari sisi penggunaan, impor golongan barang konsumsi dan barang bahan baku penolong turut mengalami penurunan secara tahunan pada Juli 2025. Impor barang konsumsi tercatat senilai US$ 2,03 miliar (turun dari US$ 2,08 miliar), dan impor barang bahan baku penolong senilai US$ 14,17 miliar (turun dari US$ 16,1 miliar).
Berbeda dengan kategori lainnya, nilai impor barang modal justru menunjukkan pertumbuhan positif. Tercatat kenaikan signifikan sebesar 18,84 persen, dari US$ 3,68 miliar pada Juli 2024 menjadi US$ 4,38 miliar pada Juli 2025.
Secara kumulatif, kinerja perdagangan impor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2025 mencapai US$ 136,51 miliar, menunjukkan peningkatan 3,41 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini utamanya disokong oleh sektor nonmigas, yang nilainya mencapai US$ 118,13 miliar atau tumbuh 6,97 persen. Sebaliknya, impor sektor migas justru menurun 14,79 persen, menjadi US$ 18,38 miliar.
Peningkatan impor secara kumulatif ini juga terlihat pada golongan bahan baku atau penolong, serta barang modal. Nilai impor barang modal menjadi penyumbang utama peningkatan ini, mencapai US$ 27,38 miliar atau melonjak 20,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dalam tujuh bulan pertama tahun 2025, Cina tetap menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia, dengan nilai fantastis US$ 47,67 miliar atau 40,35 persen dari total. Disusul oleh Jepang sebesar US$ 8,77 miliar (7,43 persen) dan Amerika Serikat sebesar US$ 5,75 miliar (4,87 persen). Impor dari Cina didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.
Selain data impor, BPS juga merilis kinerja ekspor Indonesia. Sepanjang Januari-Juli 2025, total nilai ekspor tercatat sebesar US$ 160,16 miliar, melonjak 8,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 148,26 miliar.
Menurut Pudji Ismartini, kenaikan signifikan pada ekspor ini didorong terutama oleh sektor industri pengolahan, yang mencatatkan nilai ekspor impresif sebesar US$ 128,13 miliar atau naik 17,4 persen.
Untuk tujuan ekspor, tiga negara besar yang menjadi pasar utama komoditas nonmigas Indonesia adalah Cina, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini mencapai sekitar 41,53 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Juli 2025.
Secara spesifik, Cina tetap menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai US$ 34,46 miliar (22,64 persen), diikuti Amerika Serikat sebesar US$ 17,89 miliar (11,75 persen) dan India sebesar US$ 10,87 miliar (7,14 persen). Ekspor ke Cina didominasi oleh besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian dan aksesorinya (rajutan), serta alas kaki.
Ringkasan
Nilai impor Indonesia pada Juli 2025 tercatat sebesar US$ 20,57 miliar, turun 5,68 persen dibandingkan Juli 2024. Penurunan ini terutama disebabkan oleh anjloknya impor sektor migas sebesar 29,36 persen, serta koreksi tipis pada impor nonmigas dan barang konsumsi serta bahan baku penolong. Menariknya, impor barang modal justru menunjukkan pertumbuhan positif signifikan sebesar 18,84 persen, mencapai US$ 4,38 miliar.
Secara kumulatif, kinerja impor Januari-Juli 2025 mencapai US$ 136,51 miliar atau naik 3,41 persen, terutama disokong oleh nonmigas dan peningkatan impor barang modal yang melonjak 20,56 persen, dengan Cina sebagai negara asal impor utama. Di sisi lain, ekspor Indonesia pada periode yang sama juga melonjak 8,03 persen menjadi US$ 160,16 miliar, didorong oleh sektor industri pengolahan. Cina, Amerika Serikat, dan India menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia.