
Lembaga pemeringkat kredit global terkemuka, Fitch Ratings, baru-baru ini menyoroti serangkaian aksi protes skala besar yang mengguncang Indonesia. Fitch menegaskan bahwa kericuhan semacam ini berpotensi memengaruhi penilaian kelayakan kredit suatu negara, yang mencerminkan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kewajiban utangnya.
George Xu, Direktur Asia-Pasifik Sovereign Ratings di Fitch, menjelaskan bahwa “Protes yang diwarnai kekerasan tersebut dapat berdampak negatif terhadap profil kredit negara jika hal itu melemahkan prospek pertumbuhan jangka menengah. Atau jika pemerintah berupaya mengurangi ketegangan sosial dengan meningkatkan belanja secara signifikan.” Pernyataan ini disampaikan pada Kamis, 4 September 2025, sebagaimana dikutip dari laman resmi Fitch Ratings.
Peningkatan belanja pemerintah, terutama sebagai respons terhadap ketegangan sosial, dapat memperburuk risiko selisih fiskal atau defisit anggaran, sebuah isu yang juga baru-baru ini menjadi perhatian lembaga asesmen tersebut. Ketegangan di masyarakat memuncak ketika protes menentang rencana kenaikan tunjangan bagi anggota DPR meluas dan semakin intensif. Pemicunya adalah insiden tragis pada 28 Agustus, di mana seorang pengemudi ojek online tewas dilindas kendaraan aparat keamanan yang dikerahkan untuk menghadapi para pengunjuk rasa.
Menyusul insiden kekerasan tersebut, pemerintah mengambil langkah cepat dengan mencabut beberapa kebijakan kontroversial, termasuk rencana kenaikan tunjangan. Namun, Fitch berpandangan bahwa risiko ketegangan sosial di Indonesia masih berpotensi berlanjut dan bahkan mendalam, menciptakan tantangan politik yang signifikan bagi presiden dan koalisi pemerintahan saat ini.
Rangkaian aksi unjuk rasa ini sesungguhnya merupakan cerminan dari ketidakpuasan publik yang mendalam, dipicu oleh tingginya biaya hidup dan lambatnya pemulihan perekonomian yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Fitch menambahkan bahwa ketegangan ini mungkin diperparah oleh adanya realokasi belanja publik besar-besaran, yang ditujukan untuk membiayai proyek-proyek prioritas pemerintah, seperti program makan bergizi gratis (MBG).
Apabila kerusuhan sosial terus berlanjut dan semakin meluas, hal ini dikhawatirkan dapat merusak prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Melemahnya sentimen bisnis dan konsumen akan menjadi konsekuensi langsung, yang pada gilirannya akan semakin mempersulit upaya negara dalam menarik investasi asing yang sangat dibutuhkan.
Berkurangnya aliran modal asing, sebagaimana diutarakan Fitch, dapat meningkatkan ketergantungan Indonesia pada aliran portofolio yang sifatnya lebih tidak stabil. Kondisi ini berpotensi memperparah pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD). Fitch memproyeksikan CAD akan mencapai 1,3 persen dari PDB pada tahun 2025 dan 1,7 persen pada tahun 2026. Kendati demikian, penting untuk dicatat bahwa CAD Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan standar historis, dan ketersediaan cadangan devisa yang cukup besar turut mengurangi risiko tekanan pembiayaan eksternal.
Pada Maret 2025 lalu, Fitch telah mengafirmasi peringkat utang negara Indonesia pada level BBB, yang berarti satu tingkat di atas level terendah investment grade atau layak investasi, dengan outlook yang stabil. Meskipun demikian, Fitch menyoroti bahwa indikator tata kelola (governance) Indonesia masih lebih lemah dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki peringkat BBB serupa, termasuk negara tetangga seperti India dan Filipina yang juga menunjukkan skor rendah dalam aspek ini.
Fitch mengaitkan skor tata kelola yang relatif rendah ini dengan adanya kerusuhan sosial yang signifikan secara berkala di Indonesia. Lembaga tersebut memperingatkan bahwa jika ketegangan sosial berlanjut dalam jangka waktu yang panjang, hal ini berisiko menimbulkan dampak negatif pada area lain di mana Indonesia saat ini memiliki posisi yang lebih baik dibandingkan negara lain di kategori yang sama. Sebagai contoh, jika kebijakan-kebijakan yang dibuat justru merugikan perekonomian secara luas.
Pilihan Editor: Bahaya Sisa Anggaran Mengucur ke Koperasi Merah Putih
Ringkasan
Fitch Ratings memperingatkan bahwa protes besar di Indonesia berpotensi memengaruhi peringkat kelayakan kredit negara. Kericuhan ini dapat merusak prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah atau mendorong peningkatan belanja pemerintah yang memperburuk defisit fiskal. Ketegangan sosial dipicu oleh ketidakpuasan publik terhadap biaya hidup, pemulihan ekonomi yang lambat, dan rencana kenaikan tunjangan DPR.
Meskipun pemerintah telah mencabut kebijakan pemicu, Fitch menilai risiko ketegangan sosial masih tinggi. Berlanjutnya kerusuhan dapat menghambat investasi asing, memperlebar defisit transaksi berjalan, serta memperburuk indikator tata kelola Indonesia yang sudah lebih lemah dibanding negara seperingkat. Fitch sendiri mempertahankan peringkat utang Indonesia di BBB dengan prospek stabil, namun mengingatkan dampak negatif jangka panjang jika kerusuhan berlanjut.