
Prospek emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 kini semakin menjanjikan, seiring dengan meningkatnya kembali minat para investor terhadap saham-saham dengan fundamental kuat. Optimisme ini mencerminkan pergeseran fokus pasar ke aset-aset yang dinilai lebih stabil dan memiliki daya tahan di tengah gejolak ekonomi.
Berdasarkan data statistik dari Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan Rabu (4/2/2026), indeks LQ45 tercatat berada di level 832,795. Angka ini menunjukkan kenaikan tipis sebesar 1,1% jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Meskipun secara tahun berjalan (year-to-date), indeks LQ45 masih membukukan pelemahan sebesar 1,63%, kondisi ini jauh membaik dari koreksi yang sempat menyentuh angka 2,7% sebelumnya, mengindikasikan adanya momentum pemulihan.
Nafan Aji Gusta, seorang Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, mengamati bahwa pelaku pasar kini semakin selektif dengan kembali melirik saham-saham berfundamental kuat. Dalam skenario yang paling positif, ia memproyeksikan bahwa indeks LQ45 berpotensi bergerak menuju level 936 pada tahun 2026, sebuah target yang menggambarkan keyakinan terhadap potensi pertumbuhan.
Menurut Nafan, ada beberapa faktor krusial yang mendorong kembali gairah investor terhadap saham fundamental. Salah satunya adalah emiten LQ45 dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan kinerja perusahaan, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih. Selain itu, kondisi makroekonomi nasional juga turut memberikan dukungan signifikan, di antaranya tren suku bunga acuan yang cenderung menurun. Penurunan suku bunga ini diperkirakan akan menekan biaya pinjaman perusahaan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan likuiditas. “Kondisi ini bagus dapat meningkatkan likuiditas,” ungkap Nafan kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).
Lebih lanjut, kebijakan free float serta peningkatan transparansi data kepemilikan saham juga turut berkontribusi dalam perbaikan kualitas pasar. Ketentuan free float minimal 15% mendorong perusahaan untuk lebih terbuka, sekaligus memperkuat penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Ini adalah langkah vital yang meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, sehingga mampu memperkuat kepercayaan investor, baik institusi domestik maupun global.
Nafan menambahkan, fundamental makroekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid dengan kondisi ekonomi yang relatif stabil. Di samping itu, pasar saham juga akan segera memasuki musim pembagian dividen, di mana sejumlah emiten LQ45 dijadwalkan akan menyalurkan dividen kepada para pemegang saham, menambah daya tarik investasi.
IHSG Berpeluang Bergerak Mixed Cenderung Menguat Kamis (5/2), Ini Rekomendasi Analis
Senada dengan Nafan, Hans Kwee, pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, turut mengamini bahwa investor saat ini memang mulai mengalihkan perhatian ke saham-saham dengan fundamental kuat. Pergeseran ini tidak hanya terjadi di kalangan investor ritel, tetapi juga institusi besar seperti Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, dan sejumlah dana pensiun, yang kini cenderung menempatkan dana pada saham-saham dengan kinerja fundamental yang solid.
“Ada risiko saham gorengan diusut kasusnya atau diperiksa OJK. Jadi investor pindah ke saham berfundamental bagus,” ujar Hans kepada Kontan, Rabu (4/2/2026). Dalam kondisi pasar seperti ini, Hans menilai saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ45 berpeluang naik, mengingat valuasi pasar saham Indonesia, khususnya emiten berkapitalisasi besar, masih tergolong murah. Ia secara spesifik merekomendasikan untuk mencermati sejumlah saham seperti BBCA, TLKM, ASII, BMRI, BBRI, dan BBNI. Selain itu, saham di sektor emas dan pertambangan juga dinilai menarik untuk diperhatikan.
IHSG Berpeluang Uji Level 8.200 pada Kamis (5/2), Ini Rekomendasi Analis
Pilihan Saham LQ45
Nafan juga memberikan panduan spesifik mengenai beberapa saham dalam indeks LQ45 yang layak dicermati oleh investor. Salah satunya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang dikenal sebagai bank besar dengan kinerja paling stabil di Indonesia. “Bagi investor jangka panjang yang mengincar kombinasi stabilitas dan imbal hasil dividen, saham BBCA masih menarik,” ujarnya.
IHSG Ditutup Menguat 0,3% ke 8.146 Hari Ini (4/2), Top Gainers LQ45: BBTN, AMMN, BRPT
Selain BBCA, saham perbankan lain yang turut direkomendasikan adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Menurut Nafan, BBNI terus berupaya menjaga kualitas aset sembari memperluas pembiayaan dan memperkuat layanan digital. Upaya ini berpotensi mendorong peningkatan pendapatan berbasis komisi serta memperkuat daya saing jangka panjang perusahaan.
Pilihan berikutnya datang dari sektor konsumsi, yaitu PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP). Dengan kebijakan cukai rokok yang diperkirakan stabil pada tahun 2026, HMSP diproyeksikan mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga 41%, atau sekitar Rp 8 triliun berdasarkan estimasi konsensus. Emiten ini juga dikenal memiliki kebijakan pembagian dividen yang besar, dengan payout ratio yang kerap mendekati 100%. “Seiring pemulihan laba, investor berpotensi memperoleh imbal hasil dividen yang menarik, bahkan dapat mencapai sekitar 8,94%,” jelasnya.
Selanjutnya, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga dinilai layak diperhatikan. Sebagai bagian dari ekosistem MIND ID, INCO memiliki peluang lebih besar dalam menjalin kolaborasi strategis dengan perusahaan pelat merah lain dalam rantai pasok baterai nasional. Kemitraan strategis dengan perusahaan global seperti Huayou dan Ford juga menempatkan INCO sebagai produsen nikel kelas satu yang banyak diminati industri kendaraan listrik, terutama karena perusahaan dinilai memiliki standar Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) yang baik.
IHSG Melemah 0,53% ke 8.079 pada Sesi I Rabu (4/2), BUMI, TLKM, JPFA Top Losers LQ45
Sementara itu, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turut dipandang menarik seiring fokus perusahaan dalam mengintegrasikan layanan fixed mobile convergence (FMC) serta memperkuat bisnis digital, termasuk pengembangan jaringan 5G dan layanan pusat data, yang dinilai mampu menopang pertumbuhan pendapatan di masa depan.
Rekomendasi Saham
Sebagai rangkuman, Nafan merekomendasikan strategi accumulative buy untuk saham BBCA, BBNI, HMSP, dan TLKM dengan target harga jangka panjang masing-masing Rp 9.750, Rp 5.600, Rp 975, dan Rp 4.290 per saham. Lalu, ia juga merekomendasikan strategi add untuk saham INCO dengan target harga jangka panjang di level Rp 7.625 per saham. Rekomendasi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi investor dalam mengambil keputusan strategis di pasar modal.