Berita mengejutkan datang dari Kementerian Keuangan pada Selasa, 9 September 2025, ketika Sri Mulyani Indrawati secara resmi melepaskan jabatannya sebagai Menteri Keuangan dalam sebuah serah terima jabatan. Pelepasan jabatan ini segera diikuti oleh respons negatif pasar keuangan Indonesia, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,78 persen ke level 7.628 pada penutupan perdagangan sore. Pelemahan ini telah terasa sejak pembukaan bursa saham. Tak hanya IHSG, nilai tukar rupiah juga ditutup melemah signifikan, yakni 172 poin, mencapai level Rp 16.481 per dolar Amerika Serikat.
Menurut pengamat forex Ibrahim Assuabi, gejolak pasar ini sebagian besar dipicu oleh menguatnya dolar AS. Dari perspektif eksternal, sentimen negatif turut dipengaruhi oleh kondisi politik yang dinamis di beberapa negara global. Lebih lanjut, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Federal Reserve, badan pembuat kebijakan moneter bank sentral AS, yang dijadwalkan pekan depan. Mayoritas pedagang, sekitar 89,4 persen, memprediksi adanya peluang penurunan suku bunga acuan sebesar seperempat poin, sebuah antisipasi yang turut membayangi pergerakan pasar.
Namun, sentimen internal menjadi faktor dominan yang tak kalah penting. Ibrahim Assuabi menegaskan bahwa mundurnya Sri Mulyani berperan besar dalam memicu pergerakan negatif pasar. “Pencopotan Sri Mulyani Indrawati dari jabatan Menteri Keuangan memicu kekhawatiran investor global atas arah fiskal Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto,” jelas Ibrahim, menyoroti respons skeptis dari kalangan investor terhadap transisi kepemimpinan di sektor keuangan negara.
Posisi strategis yang ditinggalkan Sri Mulyani kini diisi oleh Purbaya Yudhi Sadewa. Kabar mengenai potensi mundurnya ekonom berpengalaman ini sejatinya telah beredar luas dalam beberapa pekan terakhir. Desas-desus tersebut menguat seiring dengan meningkatnya gejolak politik nasional serta maraknya protes publik terkait fasilitas mewah yang dinikmati oleh anggota DPR, menciptakan atmosfer ketidakpastian politik yang berdampak pada stabilitas ekonomi.
Bagi banyak investor, Sri Mulyani bukanlah sekadar seorang pejabat, melainkan simbol stabilitas dan kepastian. Ibrahim Assuabi bahkan menyebutnya sebagai figur krusial yang berhasil menjaga sentimen positif investor berkat pengalaman luas dan rekam jejaknya yang teruji dalam menangani berbagai krisis. Mulai dari anjloknya rupiah pada tahun 2018 hingga gejolak ekonomi saat pandemi Covid-19, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini selalu tampil sebagai sosok yang mampu menenangkan dan memberikan keyakinan pada pasar, menjadikannya jangkar kepercayaan bagi investor global.
Oleh karena itu, kepergian Sri Mulyani kali ini dikhawatirkan dapat mengguncang kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia di mata dunia. “Pasar langsung bereaksi negatif terhadap reshuffle tersebut, terbukti arus keluar modal asing atau capital outflow dari saham mencapai US$ 254 juta hanya dalam empat hari pertama September, dengan obligasi mencatat penjualan lebih besar,” ungkap Ibrahim. Data ini menjadi bukti konkret betapa sensitifnya pasar terhadap perubahan kepemimpinan di pos Menteri Keuangan dan potensi dampaknya terhadap investasi di Indonesia.
Dengan dinamika pasar yang masih sarat ketidakpastian, Ibrahim Assuabi memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah esok hari akan bergerak fluktuatif. Meskipun demikian, ia memperkirakan rupiah kemungkinan akan kembali ditutup melemah, berada di rentang Rp 16.480 hingga Rp 16.540 per dolar AS, menandakan tekanan yang berkelanjutan pada mata uang domestik.
Pilihan Editor: Buntut Rumah Sri Mulyani Dijarah: Drama Dua Kali Minta Mundur
Ringkasan
Sri Mulyani Indrawati mengundurkan diri dari jabatan Menteri Keuangan, yang memicu reaksi negatif pasar keuangan Indonesia. IHSG anjlok 1,78 persen dan rupiah melemah signifikan menjadi Rp 16.481 per dolar AS. Pengamat forex Ibrahim Assuabi menyebut pengunduran diri Sri Mulyani sebagai pemicu utama kekhawatiran investor global terhadap arah fiskal Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo Subianto.
Kepergian Sri Mulyani, yang dianggap sebagai simbol stabilitas dan kepercayaan investor, dikhawatirkan mengguncang kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia. Hal ini terbukti dengan arus keluar modal asing (capital outflow) dari saham mencapai US$ 254 juta dalam empat hari pertama September. Ibrahim Assuabi memproyeksikan rupiah akan terus melemah dan bergerak fluktuatif.