
Kasus kontaminasi radioaktif pada udang ekspor Indonesia yang ditujukan ke pasar Amerika Serikat telah menjadi sorotan utama, memicu respons cepat dari pemerintah. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa pihaknya tengah serius menyusun strategi mitigasi komprehensif untuk menangani persoalan ini dan mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Menurut Budi, kontaminasi Cesium-137 pada udang ekspor Indonesia ini sifatnya terisolasi, hanya ditemukan pada empat kontainer pengiriman. “Selain itu tidak ada masalah. Mitigasi ke depannya supaya tidak ada kasus itu lagi,” tegas Budi saat ditemui di Gedung Ali Wardhana Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Senin, 8 September 2025, menunjukkan optimisme pemerintah dalam menjaga reputasi produk perikanan nasional.
Amerika Serikat memang merupakan salah satu pasar ekspor paling vital dan strategis bagi udang asal Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada kuartal I 2025, total nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat mencapai US$ 7,3 miliar. Kontribusi udang dan ikan (HS 03) terbilang signifikan, mencapai US$ 287,34 juta, atau setara dengan 3,93 persen dari keseluruhan ekspor ke pasar Paman Sam tersebut, menggarisbawahi pentingnya menjaga kepercayaan pasar.
Dengan nilai ekspor yang substansial ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso meyakinkan bahwa temuan zat radioaktif tersebut tidak akan mengganggu stabilitas pasar ekspor ke Amerika Serikat. “Tidak akan mengganggu ekspor ke Amerika Serikat. Sepanjang udang yang dikirim itu tidak terkontaminasi,” ujarnya, menekankan pentingnya kualitas dan keamanan produk yang diekspor.
Di sisi lain, temuan mengenai kontaminasi Cesium-137 ini pertama kali diumumkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). Mereka mengungkapkan bahwa udang yang terkontaminasi tersebut dikirimkan oleh sebuah perusahaan di Indonesia dan terdeteksi saat tiba di sejumlah pelabuhan utama di AS, termasuk Los Angeles, Houston, Savannah, dan Miami, menandai adanya pemeriksaan ketat yang dilakukan.
Sebagai respons langsung, FDA dalam pernyataan resminya pada Selasa, 19 Agustus 2025, menegaskan bahwa “Semua kontainer dan produk yang dinyatakan positif atau menunjukkan tanda-tanda Cs-137 telah ditolak masuk ke Amerika Serikat.” Tindakan tegas ini menunjukkan komitmen otoritas AS dalam menjaga keamanan pangan bagi konsumen mereka.
Langkah pencegahan yang lebih luas juga diambil oleh FDA dengan meminta jaringan ritel raksasa Walmart untuk segera menarik tiga produk udang beku dari produsen asal Indonesia yang terlibat. Keputusan ini diambil untuk meminimalisir potensi paparan radiasi tingkat rendah yang, meskipun tidak menimbulkan bahaya akut, berisiko memiliki dampak kumulatif jika terakumulasi dalam jangka panjang, menggarisbawahi prinsip kehati-hatian.
Menyelidiki akar masalah kontaminasi Cesium-137 ini menjadi prioritas. FDA menegaskan komitmennya untuk berkolaborasi erat dengan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) serta otoritas pengawas makanan laut Indonesia. Dalam pernyataan resminya, FDA secara spesifik menyebut, “FDA secara aktif menyelidiki laporan kontaminasi Cesium-137 (Cs-137) dalam kontainer pengiriman dan produk udang beku yang diproses oleh PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods) dari Indonesia,” menegaskan fokus investigasi pada asal-usul dan produsen terkait.
Alfitria Nefi berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan Editor: Dari Mana Barang Bajakan yang Masuk Pasar Indonesia
Ringkasan
Udang ekspor Indonesia ke Amerika Serikat terkontaminasi Cesium-137, memicu perhatian pemerintah. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pihaknya serius menyusun strategi mitigasi, menekankan bahwa kasus ini terisolasi hanya pada empat kontainer pengiriman. Ia meyakini insiden ini tidak akan mengganggu stabilitas ekspor ke AS, yang merupakan pasar vital bagi udang Indonesia.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pertama kali mengumumkan temuan Cesium-137 ini. FDA telah menolak semua kontainer dan produk yang terkontaminasi, serta meminta penarikan tiga produk udang beku dari produsen Indonesia yang terlibat, PT Bahari Makmur Sejati. FDA kini berkolaborasi dengan otoritas Indonesia untuk menyelidiki akar masalah kontaminasi ini.