
Inapos JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menunjukkan kinerja awal tahun yang solid dengan mencatatkan perolehan nilai kontrak sebesar Rp 724 miliar sepanjang Januari 2026.
Pencapaian impresif ini ditegaskan oleh Ngatemin alias Emin, Corporate Secretary PT Wijaya Karya Tbk, yang menyebutkan bahwa raihan kontrak tersebut berasal dari beragam lini bisnis perseroan, termasuk kontribusi signifikan dari anak-anak perusahaan WIKA. Strategi utama perusahaan berfokus pada proyek-proyek yang mengadopsi pola pembayaran monthly progress. Pendekatan ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas arus kas dan mendukung keberlanjutan kinerja WIKA di masa mendatang, memastikan operasional yang lebih stabil dan terencana.
Emin menjelaskan lebih lanjut kepada Kontan pada Jumat (13/2/2026), “Fokus kami pada proyek-proyek yang memiliki pola pembayaran monthly progress, dan mendukung keberlanjutan kinerja perusahaan.” Optimisme ini juga didukung oleh perkembangan positif baru-baru ini, di mana gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) terhadap Wijaya Karya (WIKA) dari Abacurra telah dicabut, memberikan angin segar bagi kondisi keuangan dan reputasi perseroan.
Menatap tahun 2026, Wijaya Karya (WIKA) tidak hanya berpuas diri dengan kinerja awal tahun. Perseroan juga menargetkan pertumbuhan nilai kontrak hingga 15% di Tahun 2026, menunjukkan ambisi dan strategi ekspansi yang terukur dalam menghadapi dinamika pasar konstruksi dan infrastruktur.
Terkait rencana besar merger BUMN karya yang ditargetkan pada pertengahan tahun 2026, Emin mengungkapkan bahwa WIKA saat ini memprioritaskan upaya intensif dalam menjaga kinerja operasional. Selain itu, perseroan juga fokus pada peningkatan tata kelola dan digitalisasi, serta menggenjot inovasi metode kerja guna mempercepat penyelesaian proyek-proyek yang tengah berjalan dan meningkatkan efisiensi.
Langkah-langkah strategis ini ditempuh agar proses merger BUMN karya dapat terlaksana sesuai target yang telah ditetapkan. Harapannya, bisnis WIKA akan semakin matang, adaptif, dan relevan dengan arah kebijakan yang digariskan oleh para stakeholder utamanya. “Apapun keputusan yang nantinya diambil, kami meyakini tentunya hal ini sudah melalui berbagai aspek kajian, termasuk aspek keberlanjutan,” pungkas Emin, menegaskan keyakinan perusahaan terhadap setiap keputusan strategis yang diambil.
Di samping fokus internal, WIKA turut menyambut positif rencana Pemerintah dan Danantara terkait upaya penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), yang lebih dikenal dengan merek Whoosh. Perseroan menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi dalam solusi yang konstruktif demi kelancaran proyek strategis nasional ini.
Namun demikian, saat ini perseroan masih dalam posisi menunggu detail skema yang akan ditempuh oleh Pemerintah maupun Danantara mengenai rencana tersebut. “Saat ini, perseroan masih menunggu detail dari skema yang akan diambil Pemerintah maupun Danantara terkait rencana tersebut,” paparnya, menunjukkan sikap proaktif namun tetap cermat dalam mengikuti perkembangan selanjutnya sebelum mengambil langkah konkret.
Ringkasan
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan perolehan kontrak sebesar Rp 724 miliar pada Januari 2026, yang berasal dari berbagai lini bisnis dan anak perusahaan. Perseroan fokus pada proyek dengan pola pembayaran monthly progress untuk menjaga stabilitas arus kas dan mendukung keberlanjutan kinerja. Optimisme perusahaan juga didukung oleh pencabutan gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan target pertumbuhan nilai kontrak sebesar 15% di tahun 2026.
Menjelang rencana merger BUMN karya pada pertengahan 2026, WIKA memprioritaskan peningkatan kinerja operasional, tata kelola, dan digitalisasi. Perseroan juga siap berpartisipasi dalam penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Whoosh. Namun, WIKA masih menunggu detail skema yang akan ditempuh oleh Pemerintah dan Danantara terkait rencana tersebut.